GAMBARAN ALLAH DALAM DIRI IGNATIUS

Ignatius memahami Allah sebagai Kasih yang terungkap dalam tindakan pemberian diriNya demi keselamatan seluruh ciptaan, terutama manusia. Penciptaan merupakan ungkapan pemberian Diri ini. Penciptaan ini hingga sekarang berlangsung terus dan tak pernah berhenti.  Seluruh ciptaan menjadi wajah kehadiran dan keagungan Allah. Di sana Allah terus bekerja dan berkarya: menjadikan segalanya indah, benar, baik, harmonis….untuk makin sempurna.

Allah mengajak manusia untuk bekerja bersamaNya mengelola ciptaan agar tetap “baik adanya”. Mampu bekerja bersama Tuhan karena sebagai citraNya, manusia memiliki sifat ilahi.

Dalam sejarah hidupnya, ternyata manusia lebih mengikuti diri dan nafsunya daripada mentaati Allah. Itulah dosa, yaitu menyalahgunakan anugerah Tuhan untuk diri sendiri. Dosa ini merusak dirinya dan relasinya dengan ciptaan lain, termasuk sesamanya. Seluruh aspek hidup manusia tercemar oleh dosa yang mengarah pada kematian: terpisah dari Allah. Dengan kemampuannya sendiri, manusia tidak bisa mengembalikan martabatnya sebagai citraNya.  Allah yang adalah Kasih, tidak bisa membiarkan ini terjadi. Akhirnya Allah memberikan Dirinya untuk mengembalikan manusia dalam kesatuan dengan Allah. Caranya bagaimana? Agar bisa menyertai manusia, Allah menghadirkan diri dalam bentuk Suara Hati. Kemudian Allah juga mengirimkan para Nabi untuk menemani perjalanan manusia. Akhirnya Allah memberikan Diri dalam diri Yesus yang adalah manusia biasa seperti anda dan saya.

Yesus mau menunjukkan bahwa Citra Allah dalam diri manusia bisa dijaga utuh dan tumbuh selagi manusia berjiarah di dunia. Manusia bisa tetap bersatu dengan Tuhan ketika manusia terlibat di dunia ini. Tidak ada pertentangan antara menjadi manusia penuh dan bersatu dengan Tuhan. Yesus lalu menjadi model: manusia macam apakah yang mesti dituju dan diperjuangkan..

Bagi Ignatius, Allah itu Asal dan Tujuan segalanya. Sangkan Paraning Dumadi. Allah itu Agung melampaui segala yang bisa kita bayangkan; tapi Allah juga begitu dekat melampaui imaginasi kita.

Maka tidak mungkin mendekat padaNya kalu kita sendiri tidak akrab dengan diri kita, nurani kita, bersaudara dengan sesama dan mencintai alam ciptaanNya. Allah yang akbar itu dirasakan dan dialami dalam keseharian yang serba biasa. Untuk dekat padaNya yang kita butuhkan bukan hanya doa dan bekerja, tetapi juga keheningan dan mengenali suasana batin kita.

Please follow and like us: