“Dunia Diciptakan bagi Kemuliaan Allah”(17-19)

17. Adakah makna dan kemajuan dalam sejarah ?

Keselamatan, kebahagiaan dan kepenuhan sempurna yang dianugerahkan kepada kita melalui Yesus Kristus, bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh segelintir orang saja. Allah menginginkan keselamatan semua orang. Keselamatan ini membebaskan manusia dalam  semua dimensi: raga dan jiwa, personal maupun sosial, dalam sejarah hidup di dunia maupun di surga. Dalam sejarah, dalam ruang dan waktu kita berada, keselamatan ini sudah dimulai, tetapi baru sempurna dalam kehidupan kekal. Maka, orang harus menolak semua ideologi politiķ yang menjanjikan bahwa keselamatan sudah dialami sejak di dunia ini. Pernyataan bahwa “Taman Firdaus” baru kita alami di surga, bukan janji kosong, dan bukan mengabaikan kehidupan di dunia ini. Lebih dari itu, atas dasar pengharapan akan kehidupan kekal kita bisa mengembangkan hidup kita “di sini dan saat ini” dengan keadilan dan kasih. Tak ada satu pun yang baik yang kita lakukan di dunia ini menjadi sia-sia; itu semua mencapai kesempurnaannya dalam kehidupan kekal.

Kesaksian

Saya pikir, karena moral itu universal, maka hak akan menang, kebaikan akan menang, belarasa akan menang, gelak tawa akan menang, kasih, perhatian, saling berbagi akan menang. Karena kita diciptakan untuk kebaikan. Kita diciptakan untuk kasih.

Desmond Tutu (*1931), penerima hadiah nobel Perdamaian.

==========

18. Bagaimana perubahan dalam masyarakat bisa terwujud?

Kitab Suci,  yakni Pewahyuan Diri Allah, mengubah kita dalam segala aspek. Kita mendapat cara pandang baru terhadap dunia dan masyarakat. Segala perubahan bermula di hati manusia: pertama, orang harus berubah dari dalam, berpikir dan hidup menurut Perintah Allah, kemudian baru ia dapat memberi pengaruh ke luar. Pertobatan hati yang harus terus menerus diupayakan, adalah permulaan sejati demi dunia yang lebih baik. Dengan demikian, baru kita tahu bagaimana lembaga dan sistem masyarakat harus diubah dan diperbaiki.

Pesan:

“Jika kamu  tidak mengasihi saudara di depan matamu, kamu tidak dapat mencintai Allah yang tidak kamu lihat.”  St. Agustinus (354-430) pujangga gereja, tokoh pemikir Gereja awali.

=========

19. Mengapa egoisme menjadi inti semua dosa manusia?

Selama manusia hanya memperhatikan diri sendiri secara egois, ia akan semakin lemah. Kita diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak bisa mencukupi diri sendiri. Kita membutuhkan komunitas manusia, kita membutuhkan orientasi yang membebaskan menuju makna dan asal-muasal keberadaan kita, dan pada akhirnya kepada Tuhan. Kita harus keluar dari diri kita sendiri karena kita diciptakan untuk mengasihi. Dengan mencintai, kita melampaui diri kita sendiri dan mengarahkan diri kepada yang lain, dan akhirnya kepada Tuhan. Berbelok ke arah diri sendiri sama dengan berdosa. Barangsiapa tidak (bisa) mencintai, ia hidup dalam keterasingan  yang ia ciptakan sendiri. Ini juga berlaku untuk seluruh masyarakat. Di mana hanya konsumsi dan produksi, dan kelangsungan hidup dianggap sebagai yang paling penting, manusia akan kekurangan solidaritas dan kemanusiaan yang sesungguhnya.

Kesaksian:

Mereka yang mengasihi Allah, diubah oleh-Nya dalam segala hal. Kesalahan dan jalan-jalan keliru pun, diubah-Nya demi kebaikan mereka. –St. Agustinus (354-430)

Sumber: DOCAT, Penerbit  PT.Kanisius, hlm. 26

Please follow and like us: